
infodis.id – Dalam dekade terakhir, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja. Namun, di balik kemudahan berbagi informasi dan hiburan, tersembunyi dampak mengkhawatirkan: paparan konten yang mempromosikan standar kecantikan tidak realistis. Studi terbaru menunjukkan korelasi antara penggunaan media sosial dengan peningkatan kasus gangguan makan dan citra tubuh negatif di kalangan remaja, terutama perempuan.
Melansir pmc.ncbi.nlm.nih.gov bahwa Statistik Pertumbuhan Internet pada 2014, 40 persen populasi global telah mengakses internet, dengan waktu daring meningkat 50 persen per tahun sejak 1990. Di antara pengguna aktif, remaja perempuan cenderung mengonsumsi konten mode, kecantikan, dan selebritas, situs yang kerap menampilkan tubuh “sempurna” hasil editan atau filter.
Slater dkk. (2011) menemukan bahwa 80 persen iklan di platform ramah remaja menampilkan figur perempuan muda, ramping, dan cantik. Pesan implisitnya jelas: “kecantikan sejati” identik dengan tubuh langsing. Tak heran, studi lain mengungkap bahwa siswi SMA yang sering terpapar konten semacam itu mengalami:
- Internalisasi tubuh ideal
- Kecenderungan membandingkan penampilan,
- Ketidakpuasan berat badan
- Keinginan ekstrem untuk kurus.
Para influencer media sosial kerap mempromosikan pola makan ekstrem, seperti clean eating atau diet detoks, tanpa dasar medis. Konten seperti “#thinspiration” atau “#bodygoals” secara tidak langsung mendorong remaja untuk mengejar tubuh tak realistis. Sebuah laporan dari *National Eating Disorders Association* (NEDA) menyebutkan bahwa remaja pengguna Instagram dan TikTok 3x lebih berisiko mengembangkan gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia.
Media sosial ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, ia menghubungkan jutaan orang; di sisi lain, ia bisa menjadi racun bagi kesehatan mental remaja. Perlunya regulasi konten dan kesadaran kolektif untuk memutus rantai idealisme kecantikan berbahaya adalah langkah krusial demi generasi muda yang lebih sehat—secara fisik maupun mental.
